Wednesday, March 14, 2012

New Blog Post

Dear Soul, Love & Faith, how you've been doing?

It's already like a decade since my last post, and you know what I wrote on that post, oh yeah "coming soon" piece of crap just to show you that I care. I'm not abandoning nor even have crossed on my mind that I will never write (by mentioning this actually I did think about that once). Look at all the time we've been through together, it  5 fuckin years already and I'm not even remember your birthday, (just realised that). You keep some of the precious moments in my life, the happiest to the less happiness, you've been the witness for some of all the great music I heard and spellbinding movies, so much of awesomeness

Things keep me pretty busy lately but not much different like in recently years, going out for movies is still a lifetime mission. 2 months passed in 2012, some movies were, some were lames, too early to pick which film would be my favorite this year, I've taken some notes and I might tell you (not promise though).

One more thing, once I came up with this idea to make things easier between us, why not send you more pictures and less writing...hahahaha (I really laughed at myself for this). I suck at picture, pictures and my writing, that's double the trouble.

I might not come with something new very soon, just thanks for now.

Thursday, December 15, 2011

PENGUMUMAN


Maaf ya, lagi-lagi blog ini harus rehat untuk beberapa saat sampai batas waktu...gak tau deh.

New post coming soon.

Tuesday, October 25, 2011

One Month Review

Katanya sih ini hari blogger nasional, semacam menyentil blog Saya yang sepertinya sudah cukup berdebu. Dinikmati dulu seadanya hasil racikan yang lumayan panjang, masih ada bumbu yang kurang Captain America dan dua film Turki yang disaksikan pas festival film Turki, tapi sepertinya sudah kehabisan cara mengaduk kata-kata yang sesuai. Jadi, inilah dulu saja yang bisa Saya hadirkan ke depan layar komputer atau hape pintar Anda.



Ini film yang menyenangkan untuk ditonton, sekumpulan anak-anak itu begitu menggemaskan. Seru melihat persahabatan mereka dan rasa deg-degan saat suka lawan jenis di seusia mereka. My choice of jaw-dropping momment, saat latihan dialog di stasiun antara. Yang di dalam film ternganga, yang di kursi penonton (baca: Saya) juga ikut ternganga. Si Alien tampil malu-malu kucing, mirip lah dengan penampakan yang ada di Clovefrfield tapi efek kehadirannya cukup mengejutkan. Desain si alien juga tidak mengalami evolusi dari yang sudah ada sih, makin susah kali ya nyari alien yang tampil beda. Nikmati endignya tanpa perlu menunggu sampai habis dengan diiringi lagu My Sharona (The Knack).




Setelah digempur Wall-E, Up, dan Toy Story 3, Cars 2 terasa jomplang dalam segi cerita tapi tetap menyenangkan untuk ditonton (kritikus jangan kejam dong). Dari deretan film Pixar, Cars sendiri tidak terlalu tampil istimewa, jadi untuk tampil dengan lonjakan kualitas yang lebih di film keduanya memang sulit. Cerita tentang menerima temanmu apa adanya, juga sering difilmkan dan Cars2 juga tidak menghadirkannya dengan cara berbeda. Malah ini lebih cocok jadi spin off dari film pertama dengan Mater sebagai tokoh utamanya. Siapa yang terlibat dalam urusan mata-mata, dan terlibat intrik dan masalah di film ini, Mater. Biarkanlah Lightning Mc Queen sibuk dengan urusan balapnya melaju ke berbagai negara, dengan keunikan setting tiap negara dalam dunia mobil. Nice soundtrack too.



Ini contoh film yang tidak setia pada judulnya, sampai seri ke-5 masih saja belum menemukann tujuan akhirnya. Ya, kalau Saw saja masih betah sampai seri k3-7 berarti masih ada 2 seri lagi untuk menyamai pencapaian Jigsaw. Orang bisa bosan dengan film ini yang ceritanya begitu-begitu dan akhirnya pun sudah pasti bisa ketebak, makanya kita perlu melihat segala sesuatu tidak dari hasilnya tapi dari prosesnya. Dari kecelakaan pesawat, kecelakaan di jalan raya, roaller coaster, kecelekaan di arena balap hingga ini kecelakaan di konstruksi jembatan, untuk hal ini bisa dibilang banyak variasi untuk permulaan munculnya firasat. Untuk urusan mati,yang ini terjadi penurunan "kualitas" dari yang sebelun-sebelumnya, tidak saja karena mirip dengan yang pernah terjadi di seri sebelumnya tapi hilangnya efek domino menuju kematian. Efek domino di sini berarti satu kejadian kecil saja, bisa membawa kematian ke salah satu karakternya. Kebanyakan efek domino juga jadi tidak lazim, seakan-akan benda mati itu memiliki kehendak sendirinya atau digerakkan dengan tangan setan menuju kematian.
Satu kejutan menarik disimpan di akhir film..yaitu tanpa kita sadari bahwa ini adalah prekuel dari final destination yang pertama, justru karakter utamanaya adalah yang tewas pada kecelakaan pesawat. Kalau cukup jeli sebenarnya ada petunjuk yang menunjukkan hal itu, telepon genggam yang digunakan di sini berukuran cukup besar kalau kita mengaggap setting film ini pada zaman sekarang. Semula juga Saya merasa hal itu aneh, tapi bisa sja itu cordless phone (tapi kok ya bergetar). Film ini juga turut menyamarkan seting waktunya dengan tokoh forensik yang mengatakan bahwa dia pernah menaglami hal yang serupa jadi ita mengasumiskan itu adalah kejadian dari film yang pertama sampai yang keempat, cukup cerdik.




Dua kata, wajib tonton. Yang pasti nonton ini mengingatkan sama The Fighter yang diperankan Christian Bale, tapi dengan feel yang berbeda. Warrior lebih "kalem" dalam mengungkapkan perasaannya, jelas berbeda dengan The Fighter yang meledak-ledak dan penuh amarah. Ceritanya diungkap perlahan, masalah yang ada diurai satu persatu jadi penonton harus sabar bertanya "kenapa begini kenapa begitu". Hebatnya biar berjalan lambat dan durasi yang cukup panjang, itu semua tidak kerasa, bisa betah duduk manis di kursi bioskop. and I'm sure he'll one bad ass bat-cracker. Penampilan sangar oleh Tom Hardy, dingin dan keras tapi akhirnya memperlihatkan kelembutan. Ini semacam peringatan kepada penonton yang menunggu-nuggu sekuel Batman terbaru, he's ready for Bane and he'll be one badass bat-cracker.


Penonton berharap apalagi yang bisa disaksikan untuk sekual kesekian kalinya dari film ini, yang bikin juga sepertinya sudah kehabisan ide untuk menampilkan yang baru. Yah, jadinya yang keempat ini seperti yang pertama, kedua, dan ketiga, gak ada yang baru. Capt Jack Sparrow kali ini melanglang buana sendiri tanpa ditemani Orlando Bloom dan Keira Knightley, makin terasa sepi, kehadiran Penelope Cruz juga terasa tidak cukup. Satu hal yang patut disyukuri adalah kali ini tidak selama dan semenjemukan film ketiganya.


"Caesar is home", film yang sangat memanusiakan para kera. Sudah banyak film yang menceritakan perjuangan manusia, kisah perjuangan primata? mungkin hanya ini. Waktu kecil si Caesar ini sangat menggemaskan seperti Curious George, udah gede malah jadi pembangkang bukan hanya kepada tuannya tapi kepada seluruh umat manusia. Bisa jadi film kampanye yang cocok untuk penyelamatan orang utan dan bangsa kera yang terancam punah, kalau mereka tidak diperlakukan dengan baik bisa jadi suatu saat akhirnya mereka melawan kita manusia. Angkat empat jempol kera untuk penampilan Andy Serkis sebagai Caesar, cukup dari sorot matanya sudah tampak amarah dan dendam bangsa kera.


Mutant and proud. Begini seharusnya mereka membuat film X-Men dari dulu. Trilogi yang sudah ada masih kurang bagus, ditambah lag spin-off Wolverine yang masih tidak cukup bagus untuk "kurang bagus". Over exposure of mutant super power is cool, terlalu banyak aksi kadang menjadi bulan-bulanan karena ceritanya yang seringkali memble, di sini kekuatan mutant diimbangi dengan cerita yang baik pula. Mutant mana yang paling digdaya di sini selain Magneto, dari mengangkat kapal selam, membelokkan wajan raksasa, sampai menghentikan peluru kendali, unjuk kekuatan yang memuaskan. Kita jadi tahu bagaimana asal-usul seorang Magneto, bagaimana Mystique bisa begitu betah terhadapnya, kelumpuhan Prof Xavier, hingga lahirnya Beast. Sayang angkatan pertama X-Men kok kayaknya masih cupu-cupu ya, bukannya harusnya ada si Cyclop?!?

Wednesday, September 14, 2011

Tree Of Life


Semoga posting ini menandakan Saya kembali aktif di Soul, Love & Faith. Mari kita lewatkan beberapa film yang tidak sempat saya tulis ulasannya tapi secatra singkat Insidious (film horor harus tonton), Harry Potter And The Deadly Hollow Part 2 (bolehlah, meski lebih milih yang bagian pertama), Transformer: Dark Side of Moon (busuk, biggest flop of the year), Furious Five (Fun, fun action).

Tree Of Life...film ini "sesuatu" banget deh, haha (tawa-tawa cantik ala Syahrini). Nonton film ini seperti perpaduan antara film Jurassic Park atau potongan-potongan dari National Geographic, pasti ada yang mensabotase pas proses editing nih. Ada beberapa gambar yang entah itu apa, trus ngambilnya gimana jadi silakan menerka-nerka sendiri apa maksudnya si Terrence Malick si pembuat film. Terlepas dari sisipan editing tadi, dramanya sendiri sih lumayan lah kalau mau tahan lompatan-lompatan film yang bisa membawa sampai ke luar angkasa. Film dengan tema keluarga yang kurang harmonis sih sebenarnya bukan favorit Saya, agak menyedihkan menontonnya. Saran saya mungkin sebaiknya tidak ditonton dalam keadaan yang lelah, dijamin ini akan menjadi lagu nina bobo yang sangat mujarab.

Nazareth muncul sebagai nama tunggal penerjemah, jarang merhatiin hal-hal beginian lagi.

Monday, May 23, 2011

いとしき日々よ・愛してる

Dua single terbarunya Ken Hirai Aisiteru (kanan) dan Itoshiki Hibi Yo (kiri). Sudah tiga single berturut-turut sejak "Boku Wa Kimi ni KOi O Suru" semuanya mellow. Lagu yang sedikit menghentak dikeluarkan di musim panas, jadi wajar saja dengan ketiga single itu yang masih mellow (lagian bukankah ini yang menjadi senjata pamungkasnya Ken Hirai). Tapi ya bila dibandingkan dengan lagu-lagu mellow di album-album terdahulu, lagu-lagunya yang sekarang ini seperti sudah bekurang kekuatan magisnya (in lagu atau mantra ya). Yang dulu-dulu itu punya kekuatan cerita yang kuat dalam lagu-lagunya, seakan-akan ada soundtrack untuk setiap suasana galau (sedih ya gak ada yang buat senanag-senang). Jadi, kalau dengarkan lagu-lagu yang sekarang sepertinya hanya pengulangan yang dulu-dulu (udah ketahuan jurusnya). Bagaimanapun juga masih tetal sangat layak untuk didengarkan. Hey, ini hanya pendapat pribadi kok.

Thursday, May 19, 2011

Source Code

Termasuk cepet persebaran film ini ke daerah-daerah, kirain sampai perlu nunggu berbulan-bulan. Tanpa banyak basa-basi, let's start decoding the Source Code.

Membicarakan film ini mau tak mau saya ingin ngebahasa hal ilmiah yang ada di dalamnya, tapi sumpah saya nggak ngerti sama sekali, apalagi dengan yang dinamakan kalkulus parabolik. Sialnya kenapa Saya harus merasa dihantui dengan istilah itu padahal di dunia nyata sendiri tidak pernah ada, alias itu hanya teori yang dibuat-buat di film. Walhasil. semua logika ilmiah yang kugunakan untuk nyambung-nyambungin film ini gak ketemu-ketemu.

Awalnya saya (dan mungkin kita semua) mengira yang dialami Colter Stevens (Jake Gylenhall) hanya sekedar perjalanan kembali ke masa lalu yang banyak kita temui di film. Kemudian, datanglah Dr. Ruletdge (Jeffrey Wright) dengan "kalkulus parabolik" rekaannya tadi untuk membantah aasumsi kita (dan juga Stevens). Sebenarnya, pada perjalanan keduanya ke dalam kereta, kita bisa lihat hal yang yang reaksi berbeda yang diperlihatkan Christina Warren (Michelle Monaghan).

Colter Stevens dihubungkan ke dalam pikiran orang lain sehingga dia bisa melihat memori terakhir orang tersebut selama 8 menit. Yang satu koma yang satu sudah meninggal, hubungan yang sulit di antara keduanya. Ini juga bukan teori baru juga di dalam film, karena di dalam satu film/serial yang pernah saya tonton, hal ini juga digunakan dalam pelacakan kejahatan (kurang lebih sama lah). Dalam hubungan yang pelik ini, hanya diperlihatkan sepihak tubuh Steven, bagamimana dia bisa tersambung ke memori Sean Fentress yang sudah meninggal apakah memorinya, telah diekstrak sedemikian rupa dan dikonversi ke dalam bentuk digital. Sungguh ajaib dalam ledakan sebesar itu mereka masih bisa menyelamatkan otaknya.

Lalu, dengan memori 8 menit Sean, bagaimana bisa Stevens mengobrak-abrik seisi kereta yang barangkali tidak pernah terekam di dalam memori Sean. Ini seperti diberi dasar-dasar naik sepeda tapi disuruh menerbangkan roket (cocok gak ya ini perbandingannya?!?). Berulang kali Steven bolak-balik antara kereta dan dunianya, menambah keping demi keping memori untuk mencari sang penjahat. Meski akhirnya berhasil menemukan si penjahat, sebagai seorang prajurit, tindak-tanduk Steven terlalu ceroboh, gegabah, dan grusa-grusu (yang membela silakan bilang, manusia tidak ada yang sempurna). Hasil yang didapatkan Steven memang tidak bisa mengubah masa lalu tapi untuk mengubah masa depan, kata Dr. Ruletdge tapi yang terjadi di akhir cerita seperti menghancurkan semua teori yang sudah dibangun di dalam film. Sepertinya, demi akhir yang indah, semua aturan yang sudah dibuat di dalam film akan dilanggar (berlaku untuk semua film ). Sungguh saya berharap, demi akhir yang lebih berkesan dan mengena lebih baik Steven mati saja di dalam ledakan itu, atau biarkan dia merasa selamat sesaat hingga akhirnya aturan-aturan yang ada benar-benar membuatnya mati.
Untuk bisa hidup dalam tubuh Sean, seluruh memori Stevens harus di cut+paste ke dalam tubuh Sean persis seperti memindahkan data dari satu komputer ke komputer lain. Di dunia manakah Stevens sekarang hidup?!?

Bingung dengan sisi ilmiah, mari kita bicarakan film ini dengan lebih manusiawi. Sifat manusiawi Stevens diperlihatkan dengan hubungannya dengan sang Ayah, yang diperlihatkan begitu tiba-tiba. Thought that when he said that he wanted do talk to his Dad was only an excuse, a very lame excuse. Tanpa kehadiran sifat manusiwai ini tetap gak ngaruh kok cerita filmnya. Sutradara yang bikin Source Code adalah orang yang sama di balik film Moon (One-man-show-nya Sam Rockwell, great movie). Ada pesan yang hampir sama terdapat di film ini, kadang kita tidak memanusiakan manusia demi satu tujuan yang dianggap lebih penting karena menyangkut kepentingan orang banyak. Stevens hanya berfungsi di otaknya, dan kuasa hidupnya sepenuhnya berada di tangan orang lain. Dengan kuasa itu, Dr. Ruletdge memperlakukan Stevens layaknya suatu program kecerdasan buatan yang bisa diprogram untuk melakukan sesuatu dan bila telah selesai dengan programnya bisa diprogram ulang lagi untuk melakukan sesuatu yang lain.

IPA sudah, IPS sudah, sekarang saatnya pelajaran bahasa. Ada beberapa terjemaha yang menurut Saya menarik. "Damn it" diterjemahkan menjadi "busyet", pakai "y" pula tuh. Seelera pribadi saya sih lebih enak pakai kata "sial", bukan "Siyal" lho ya. Pilihan kata lain yang membuat saya terkesan adalah "thank you for you service" yang diterjemahkan menjadi "terima kasih atas darma baktimu", mendengarnya teringat dengan pramuka. Kedua, kata "ancaman" hasil terjemahan dari kata "threat", sayangnya di dalam dialog ini mungkin bukan kata "threat" yang diucapkan tapi kata "thread". Kalau katanya saja berbeda begitu pula dengan artinya bukan. Apa gak aneh, ada dialog "ancaman kedua" pas Coleen Goodwin (Vera Farmiga) berusaha me-refresh ingatan Stevens . Lebih tepatnya, "urutan" kali ya?!? Ketiga kata "car" yang diterjemahkan menjadi "mobil", kalau tak ada konteks kalimatnya mungkin terjemahan ini bisa jadi benar. Tapi melihat konteksnya di dalam kereta dan kalimatnya "in this car" makan terjemahan yang lebih sesuai ialah "di dalam gerbong".

Selesai tiga jenis pelajaran kali ini, pertanyaan dan tanggapan silakan dimasukkan lewat komentar ya.

Mari Menonton

Sudah berapa kali Anda membaca postingan di dalam blog ini dimulai dengan sesuatu yang tidak begitu penting seperti yang sedang Anda baca sekarang. Saya tahu bahwa untuk memikat pembaca sebuah blog harus dimulai secepat mungkin begitu pembaca membaca awal-awal kalimat dalam postingan sebuah blog. Alih-alih menghentikan kebiasaan buruk itu, kebiasaan omong kosong ini sudah membawa saya sampai ke kalimat ketiga dan apakah sadar Anda sudah mengikuti saya sampai ke kalimat ini?!? Kalimat basa-basa ini lazimnya diisi dengan alasan saya memposting sebuah tulisan. Apa alasan saya untuk postingan kali ini (ada yang bisa menebak?!?), yaitu adalah agar ada sebuah postingan baru di blog ini (please don't block this blog or repor it as a spam). Untuk membuktikan kasih sayang Saya kepada blog ini maka dengan penuh kesadaran saya posting tulisan ini. Biar tidak terkesan serampangan dan seadanya (padahal memang itu sebagian besar isi blog ini), bolehlah saya sedikit melacur tentang kisruh perfilman bioskop kita. Ini bukan sekedar masalah tapi kekisruhan soalnya tidak tahu siapa yang sebenarnya bermasalah di sini, kayakanya semua bermasalah. Terlalu lama absen dari dunia perbioskopan membuat Saya merasa kembali di masa-masa lalu saat film belum menjadi prioritas utama Saya. Lihat trailer-trailer keren di tipi trus hanya bisa berujar alam hati"Oooo...kereeeeennn...wooooow", udah gitu aja. Sekarang juga sama aja sih, ada bioskop tapi serasa tidak ada. Ada baiknya juga dengan kisruh ini yaitu pemerataan bagi seluruh penonton di Indonesia. Kalau Saya tidak bisa nonton maka kamu-kamu sekalian pun tidak bisa (tawa puas mewakili para penonton daerah, hahahaha). Saya tetap berharap kok kisruh ini segera berakhir supaya bisa nonton film-film keren lagi di bioskop walau terkadang gondok juga tidak kebagian film yang diinginkan. Intinya bersabar yah.

Sembari menunnggu film-film keren itu kembali naik di layar bioskop, boleh lah kita nonton film di rumah. Bisa dipilih lewat DVD, hasil unduhan baik asli maupun bajakan itu pilihan Anda asalkan sampai nggak ngebunuh atau melukai orang aja silakan (tapi melukai hati pembuat filmnya...eeea). Ada beberapa film yang sudah Saya tonton tapi kalau mau dituliskan semua di sini kayaknya kebanyakan ya (antara menunjukkan kesombongan dan kurang kerjaan). Jadi, saya pilihkan yang agak-agak lama, yang bukan Hollywood yang gak mungkin tayang di bioskop yang mungkin menurut Anda gak keren sama sekali. Sok silakuen dibaca ja.

Persepolis-janganlah dilihat dari gambarnya tapi lihatlah ceritanya, kalau suka animasi yang sederhana ini bisa jadi pilihan bagus (dgn cerita yang bagus pula tentunya). Dalam satu dialoagnya ada semacan perlawanan/sindiran buat Jepang. "Apart from cutting theri stomach open and making disgusting monster those Japanese can't do anything"

This Is England-Fasisme, rasis atau ultra nasionalis, atau apapun sebutannya untuk aliran kepercayaan yang satu ini. Ada saja orang yang menganggap bahwa negaranya hanya boleh diisi oleh sekelompok orang-orang tertentu. Seorang anak terseret masuk ke dalamnya, akibat pergaulan yang salah?!?


Oldboy-Film Korea posisi teratas di IMDb, tinggal tunggu jadi versi remake Hollywood yang gak kelar-kelar. Harusnya merasa bersimpati kepada karakter protagonis yang menjadi korban, tapi kejeniiusan sang penjahat lah mengesampingkan simpati itu dan menaruh hormat pada sang penjahat. Kombinasi antara kesabaran, perencanaan yang matang menghasilkan balas dendam yang sungguh manis (bagi si penjahat) tapi terasa sangat menyakitkan bagi si korban. Indeed revenge is sweet, and when everything went smooth as planned, it just perfect.


Dead Snow-Pasukan Nazi yang menjadi Zombie, bahkan fasisme tidak akan pernah benar-benar mati. Zombie dari pasukan khusus kali Nazi soalnya mereka tidak berlaku layaknya zombie pada umumnya, gerakannya lincah dan tahan sinar matahari pula, bah.
Love Me If You Dare-Love is only a game, as you can see in the title.

Four Lions-Bagi saya semua film komedi Inggris baik parodi, satir atau yang beneran komedi ibarat pembuat lelucon berdarah dingin, bisa bikin yang denger ketawa tapi dianya malah diam menunjukkan wajah tak berdosa (iyalah, emang bikin orang ketawa itu dosa). "Kok memojokkan Islam seperti itu sih", kalau sampai berpikiran seperti itu mungkin kita termasuk yang orang yang disindir oleh film ini, yaitu orang-orang yang berpikiran salah. 4 orang muslim berencana melakukan bom bunuh diri. Lagi kita ditunjukkan bahwa semua orang yang melakukan hal ini hanya tersesat dalam pemikiran yang salah akibat dari pemikiran orang yang merasa paling benar (parahnya, yang ada di sini bodohnya gak ketulungan). Ujung-ujungnya malah bersimpati kepada pelaku sekaligus para korban ini dalam akhir buruk yang menimpa mereka.

I Spit On Your Grave-Seorang gadis diperkosa, dianiaya sampai hampir mati tapi terus akhirnya bangkit dan menuntut balas. Kalau ini skenario film horor Indonesia, pasti pemeran utamanya Suzanna sebagai kuntilanak. Balas dendan memang indah kalau terjadi di film. Those men get what they deserve.

Dogtooth-Entah harus koomentar apa tentang film ini. Melihatnya bagaikan eksperimen perilaku manusia yang dilakukan oleh orang tua sendiri (kok tega-teganya sih???). Ini satir...satir, tapi gak tahu satirnya tentang
apa. Perhatian: banyak adegan telanjang atas bawah.


Devil-M Night Shamalan perlu mempertimbangkan tetap menjadi produser daripada terus mempermalukan dirinya sebagai sutradara. Tebakan-tebakan mencari siapa iblisnya mudah, tapi menarik melihat semua "kebetulan" dirangkaikan menjadi satu kejadian. "I don't believe the devil. We don't need them. People are bad enough by themselves"

In The Mood For Love-Kisah cintanya mungkin tidak sepedih disilet-silet terus ditetesin perasan jeruk nipis, tapi barangkali gambarnya yang membawa suasana sedih, suram dan muram.