
Kebanyakan bintang dalam satu film aksi, dari yang pernah ternama hingga yang mencoba tetap berjaya. Dalam film seperti ini bisa dibilang kita jangan terlalu banyak berharap dengan jalan cerita yang berbobot dan karakternya yang jelas. Sayang sekali padahal saya membayangkan setidaknya film ini akan jatuh ke tipikal film Mission Impossible, semua tokoh dikumpulkan satu- persatu dengan asal-usul dan keahlian masing-masing.Yang lebih banyak menonjol justru Jason Statham dan Jet Li, jangan heran karena pada awal credit title kedua nama itulah yang diperkenalkan. Lepas dari yang tidak jelas dia atas, diriku cukup menikmat bagian awal-awal film terutama komedinya. Yang paling ngena percakapan antara Bruce Willis dan Sly mengenai Arnie. B: "What's wrong with him?", S: "He wants to be President"...oh yeah that's absolutely rite. Adegan penutup yang seharunsya dipenui baku pukul, baku tembak, dan ledakan di mana-mana malah mengecewakan. Tidak rapi dan seperti kurang properti dan efek-efek dahsyat. Uangnya habis buat bayar pemain doang nih.

Film ini hadir di tengah-tengah bulan Ramadhan yang sepertinya sepi film bermutu. Lawas pun tak masalah toh ceritanya bagus ini. Hanya saja akhirnya ditutup dengan cara yang bisa ditebak. Bukan akhir yang buruk, cuma akhir yang bikin sakit hati kalau sudah tahu bagaimana akhirnya (persis seperti nonton Inception). Music score-nya cukup unik, seperti mendengarkan musik di film-film fantasi. Ceritanya agak mikir tapi musiknya tetap ringan. Tidak sepenuhnya sih, nantinya juga kembali ke musik-musik yang lebih biasa untuk jenis film ini. Tambahan terakhir, sekarang saya tahu kenapa perpaduan antara Ireine Pontoh dan Yusupadi tidak pernah menghasilkan terjemahan yang memuaskan. Film ini diterjemahkan oleh Yusupadi sendiri dan hasilnya, terlalu banyak bahasa-bahasa percakapan yang mungkin tidak sebaiknya dipakai dalam terjemahan film. Contohnya "moles" untuk "memoles", dan "Say" untuk "sayang". Kalau penyelaras terjemahan seperti ini, bagaiman nasib hasil terjemahannya?!?
Avatar Special Edition
Penasaran dengan versi 3D Avatar yang tidak sempat saya saksikan tahun lalu maka saya kembali menonton film ini. Avatar boleh jadi digunakan sebagai acuan semua film-film 3D non animasi. Dengan standar yang setinggi itu, sejauh apa animasi 3D dalam film nyata bisa berbicara. Hmm, memang tidak seperti 3D dalan fimm animasi yang serasa semuanya mengambang di depan mata dan tapi menonton Avatar seperti melihat pencerahan dalam film. Bayangkan kalau selama ini film biasa seperti main PS 2 di layar tv biasa, maka menonton Avatar seperti main PS 3 dengan layar tv plasma (kerasa gak sih bedanya dengan perbandigan ini?!?). Edisi spesial ini tidak disertai dengan subtitle (saya telah membaca pemberitahuannya sebelum membeli tiket, tapi tidak menyesal kok). Serasa udah gape banget bahasa Inggris dengan mengerti semua jalan cerita di film ini selengkapnya (padahal emang udah tahu dari dulu). Penerjemah dan penyelaras (kalaupun ada) tentu saja diri saya sendiri.

Sehari sebelum balik ke Semarang saya sempat-sempatin nonton film ini. Film yang (katanya) sebagus ini memang sudah saya tunggu untuk menontonnya di bioskop. Balik ke Semarang jelas-jelas gak bisa nonton.Kesimpulannya, seperti yang banya orang bilang, film ini berdarah-darah. OKe tapi saya pernah melihat yang lebih berdarah-darah jadi tingkar pendarahan di film ini biasa saja. Hit Girl was awesome. Tidak ada satupun anak kecil di dunia ini yang boleh menirunya ya. Berbanding terbalik dengan si Kick Ass yang bergaya jagoan tanpa pikiran, mbok ya mikir-mikir dulu. Adegan dalam penyelamatan yang dilakukan si Hit Girl untuk menolong Big Daddy keren, yaitu tampilan ala dalam game FPS (First Person Shooter) serta slow motion sambil menembak para penjahat.
1 comments:
akhirnya direview juga :p
Post a Comment