Wednesday, March 23, 2011

The Fighter


Tinju kembali naik ring film setelah terakhir kali Rocky mencoba untuk yang kelima kalinya. Walau sudah tidak setangguh debut pertamanya, buktinya Rocky masih bisa mendapat elu-elu dari para penonton. Hollywood begitu banyak mengeluarkan film tinju dan sebagian di antaranya berhasil masuk ke dalam nominasi Oscars. Padahal kalau dipikir-pikir ya, ada di urutan keberapa sih olahraga tinju setelah olahraga kebanggaan Amerika yaitu footbal, baseball, dan basket (dalam urutan yang acak). Dari segi kuantitas, jumlah film mengenai ketiga olahraga terebut juga jauh lebih banyak dibandingkan film bertemakan tinju. Justru dengan jumlah yang sedikit film tinju seakan menyimpan pukulan pamungkas yang bisa meng-KO dengan telak ketiga jenis olahraga di atas. Melalui usaha yang spartan dan pantang menyerah, saya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan hidup ini. Footbal, baseball, dan basket ketiganya adalah olaharaga tim yang tidak dapat dimainkan oleh seorang diri. Tinju, bagaikan one man show si petinju dengan ring tinju sebagai panggung pertunjukannya (meski dalam perjalanan menuju ke atas ring sang petinju tidak mungkin hanya berjuang seorang diri.) Bisa jadi lebih mudah untuk menggambarkan perjuangan dari bukan siapa-siapa menjadi juara, from zero to hero bila semua prosesnya difokuskan pada satu orang saja. Berarti bisa dong kalau salah satu pemain dalan permaian beregu juga diangkat menjadi film, bahkan sudah ada beberapa yang menjadi sukses. Itulah susahnya permainan dalam tim, sang pemain bisa diakui sebagai yang terhebat sejagad, tapi dalam permainan tim, mengutip perkataan Kareem Abdul Jabar, "One man can be crucial ingredient on a team, but one man cannot make a team." Bila ada pemain yang menjadikan permainan tim sebagai panggung untuk menunjukkan kehebatan dirinya sendiri dan anggota lainnya hanyalah pelengkap semata (yang banyak ditemui dalam komik nih) jusru malah membuat ceritanya semakin tidak nyata. Dalam tinju, pertarungan di atas ring terjadi satu lawan satu, setiap keputusan pukulan yang dilemparkan ataupun elakan ditentukan oleh sang petinju sendiri. Dalam keputusan yang diambil sepersekian detik, menentukan siapa yang jadi juara dan siapa yang menjadi pecundang.

Balik lagi ke The Fighter, film tinju terbaru yang naik ring perfilman. Mari kita lihat seberapa tangguh film ini dan pukulan pamungkas apa yang dimilikinya untuk dapat menaklukkan para penonton film. Singkat cerita, film ini berkisah tentang petinju Micky Ward (Mark Wahlberg) yang berhasil meraih gelar juara dunia, sebuah kisah berakhir indah bak cerita Cinderella. Meski ditempatkan sebagai tokoh utama, tokoh pendamping Dicky Ecklund (Christian Bale) tampil tampil mencuri perhatian. Lebih banyak yang bisa diceritakan tentang Dicky, sang mantan juara, dibandingkan saudaranya Micky, seorang calon juara dunia. Dicky, terkungkung pada kejayaan masa lalu dan enggan melupakan bahwa kejayaannya hanya berlangusng sesaat dan telah lama berlalu. Parahnya lagi, ibu mereka merasakan hal sama yang membuat Micky seperti dianaktirikan, menjadikannya petinju yang tidak lebih baik dari saudaranya yang mantan juara.

Perlu tanya bung Max Sopacua kali nih yang ahli tinju seberapa hebatnya Dicky Ecklund sebagai seorang petinju. Dalam jagad pertinjuan, riwayatnya mungkin tidak panjang sehingga layak dikenang sebagai seorang petinju hebat. Satu-satunya yang patut diingat bahwa Ia pernah mengalahkan seorang petinju hebat pada masanya, Sugar Ray Robinson (dalam film sendiri diperdebatkan Ray benar-benar dipukul jatuh atau terpleset). Dari sini kita bisa melihat seorang terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, petinju yang terus-menerus mengalami kemenangan, mencapai juara dan kemudian memperthanakan gelar juaranya atau kategori kedua, menjadi seorang petinju yang cukup mengalahkan petinju pertama. Satu kejadian nyata yang pernah saya saksikan sendiri adalah ketika James "Buster" Douglas mengkanvaskan sang juara lainnya Mike Tyson. Sama-sama juara dunia pada masanya, Mike Tyson lebih terkenal pada masa itu hingga Douglas membuat dirinya lebih dikenal setelah mengalahkan Tyson. Sayangnya setelah itu namanya tidak terlalu dikenal (Ini semua pandangan penonton tinju awam).

Begitulah kisah Dicky Ecklund berhasi mencuri perhatian penonton ketimbang tokoh utamanya, Micky Ward. Pertarungan-pertarungan yang terjadi lebih ke bersifat emosional ketimbang pertarungan fisik di atas ring. Semua pertarungan di antara tokohnya bisa terlihat ketika semuanya berkumpul di gym, setelah DIcky keluar penjara. Tontonan emosi dan akting yang menarik dari masing-masing karakter. Tinju yang sebenarnya tentu hanya bisa disaksikan di atas ring, sebagai penutup film ini. Sebagai film yang berdasarkan kisah nyata, dan kebanyakan film-film tinju lainnya, apa iya adegan tinju yang difilmkan adalah rekayasa ulang dari pertarungan tinju yang pernah terjadi sebelumnya. Setiap jenis pukulan yang dihantamkan, gerak para petinjunya, luka dan lebam yang diterima si petinju...apa iya semuanya sesuai dengan kenyataan atau perlu ditambah efek dramatisasi.

Ada selentingan yang mengabarkan akan dibuat sekuel film ini. Hah, mau cerita apalagi yang diangkat. Jangan-jangan si pembuat film malah terkena sindrom Dicky Ecklund, kejayaan tak cukup hanya sekali. Ingat, yang berhasil pada sekuelnya hanya segelintir dari puluhan film yang sudah mencoba. Jadi menurut saya, cukup sampai di sini, Bale dan Leo sudah mendapat sabuk juaranya. Kisah petinju lainnya barangkali?!?

0 comments: