Thursday, May 19, 2011

Source Code

Termasuk cepet persebaran film ini ke daerah-daerah, kirain sampai perlu nunggu berbulan-bulan. Tanpa banyak basa-basi, let's start decoding the Source Code.

Membicarakan film ini mau tak mau saya ingin ngebahasa hal ilmiah yang ada di dalamnya, tapi sumpah saya nggak ngerti sama sekali, apalagi dengan yang dinamakan kalkulus parabolik. Sialnya kenapa Saya harus merasa dihantui dengan istilah itu padahal di dunia nyata sendiri tidak pernah ada, alias itu hanya teori yang dibuat-buat di film. Walhasil. semua logika ilmiah yang kugunakan untuk nyambung-nyambungin film ini gak ketemu-ketemu.

Awalnya saya (dan mungkin kita semua) mengira yang dialami Colter Stevens (Jake Gylenhall) hanya sekedar perjalanan kembali ke masa lalu yang banyak kita temui di film. Kemudian, datanglah Dr. Ruletdge (Jeffrey Wright) dengan "kalkulus parabolik" rekaannya tadi untuk membantah aasumsi kita (dan juga Stevens). Sebenarnya, pada perjalanan keduanya ke dalam kereta, kita bisa lihat hal yang yang reaksi berbeda yang diperlihatkan Christina Warren (Michelle Monaghan).

Colter Stevens dihubungkan ke dalam pikiran orang lain sehingga dia bisa melihat memori terakhir orang tersebut selama 8 menit. Yang satu koma yang satu sudah meninggal, hubungan yang sulit di antara keduanya. Ini juga bukan teori baru juga di dalam film, karena di dalam satu film/serial yang pernah saya tonton, hal ini juga digunakan dalam pelacakan kejahatan (kurang lebih sama lah). Dalam hubungan yang pelik ini, hanya diperlihatkan sepihak tubuh Steven, bagamimana dia bisa tersambung ke memori Sean Fentress yang sudah meninggal apakah memorinya, telah diekstrak sedemikian rupa dan dikonversi ke dalam bentuk digital. Sungguh ajaib dalam ledakan sebesar itu mereka masih bisa menyelamatkan otaknya.

Lalu, dengan memori 8 menit Sean, bagaimana bisa Stevens mengobrak-abrik seisi kereta yang barangkali tidak pernah terekam di dalam memori Sean. Ini seperti diberi dasar-dasar naik sepeda tapi disuruh menerbangkan roket (cocok gak ya ini perbandingannya?!?). Berulang kali Steven bolak-balik antara kereta dan dunianya, menambah keping demi keping memori untuk mencari sang penjahat. Meski akhirnya berhasil menemukan si penjahat, sebagai seorang prajurit, tindak-tanduk Steven terlalu ceroboh, gegabah, dan grusa-grusu (yang membela silakan bilang, manusia tidak ada yang sempurna). Hasil yang didapatkan Steven memang tidak bisa mengubah masa lalu tapi untuk mengubah masa depan, kata Dr. Ruletdge tapi yang terjadi di akhir cerita seperti menghancurkan semua teori yang sudah dibangun di dalam film. Sepertinya, demi akhir yang indah, semua aturan yang sudah dibuat di dalam film akan dilanggar (berlaku untuk semua film ). Sungguh saya berharap, demi akhir yang lebih berkesan dan mengena lebih baik Steven mati saja di dalam ledakan itu, atau biarkan dia merasa selamat sesaat hingga akhirnya aturan-aturan yang ada benar-benar membuatnya mati.
Untuk bisa hidup dalam tubuh Sean, seluruh memori Stevens harus di cut+paste ke dalam tubuh Sean persis seperti memindahkan data dari satu komputer ke komputer lain. Di dunia manakah Stevens sekarang hidup?!?

Bingung dengan sisi ilmiah, mari kita bicarakan film ini dengan lebih manusiawi. Sifat manusiawi Stevens diperlihatkan dengan hubungannya dengan sang Ayah, yang diperlihatkan begitu tiba-tiba. Thought that when he said that he wanted do talk to his Dad was only an excuse, a very lame excuse. Tanpa kehadiran sifat manusiwai ini tetap gak ngaruh kok cerita filmnya. Sutradara yang bikin Source Code adalah orang yang sama di balik film Moon (One-man-show-nya Sam Rockwell, great movie). Ada pesan yang hampir sama terdapat di film ini, kadang kita tidak memanusiakan manusia demi satu tujuan yang dianggap lebih penting karena menyangkut kepentingan orang banyak. Stevens hanya berfungsi di otaknya, dan kuasa hidupnya sepenuhnya berada di tangan orang lain. Dengan kuasa itu, Dr. Ruletdge memperlakukan Stevens layaknya suatu program kecerdasan buatan yang bisa diprogram untuk melakukan sesuatu dan bila telah selesai dengan programnya bisa diprogram ulang lagi untuk melakukan sesuatu yang lain.

IPA sudah, IPS sudah, sekarang saatnya pelajaran bahasa. Ada beberapa terjemaha yang menurut Saya menarik. "Damn it" diterjemahkan menjadi "busyet", pakai "y" pula tuh. Seelera pribadi saya sih lebih enak pakai kata "sial", bukan "Siyal" lho ya. Pilihan kata lain yang membuat saya terkesan adalah "thank you for you service" yang diterjemahkan menjadi "terima kasih atas darma baktimu", mendengarnya teringat dengan pramuka. Kedua, kata "ancaman" hasil terjemahan dari kata "threat", sayangnya di dalam dialog ini mungkin bukan kata "threat" yang diucapkan tapi kata "thread". Kalau katanya saja berbeda begitu pula dengan artinya bukan. Apa gak aneh, ada dialog "ancaman kedua" pas Coleen Goodwin (Vera Farmiga) berusaha me-refresh ingatan Stevens . Lebih tepatnya, "urutan" kali ya?!? Ketiga kata "car" yang diterjemahkan menjadi "mobil", kalau tak ada konteks kalimatnya mungkin terjemahan ini bisa jadi benar. Tapi melihat konteksnya di dalam kereta dan kalimatnya "in this car" makan terjemahan yang lebih sesuai ialah "di dalam gerbong".

Selesai tiga jenis pelajaran kali ini, pertanyaan dan tanggapan silakan dimasukkan lewat komentar ya.

No comments: